Berdasarkan data yang telah terkumpul dan kemudian dianalisis, baik itu dengan tekhnik presentasi frekuensi maupun tekhnik statistik, maka bisa diketahui hasil akhirnya sebagai berikut :
1. Jilbab adalah gaun wanita yang longgar yang disyariÂ’atkan Allah untuk menutup aurat wanita. Tentang bentuk jilbab tergantung pada masing-masing pemakai atau disesuaikan dengan kemajuan zaman selama memenuhi syarat menutupi aurat.
2. Tingkat motivasi berpakaian jilbab terhadap akhlak siswi SMUN 5 Semarang dapat dikategorikan cukup. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai rata-rata angket motivasi berpakaian jilbab terhadap akhlak siswi yaitu sebesar 27,2. Dan nilai rata-rata tersebut termasuk dalam kriteria cukup.
3. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan presentase frekuensi dari masing-masing variabel, diketahui hasil akhirnya sebagai berikut :
a. Bahwa keaktifan berpakaian jilbab sesuai dengan hasil rating scale dinyatakan baik, karena dari 60 siswi yang diteliti terdapat 25 siswi yang menyatakan sudah aktif/baik dalam memakai jilbab atau mencapai 42%, sedangkan yang menyatakan biasa/cukup terdapat 29 siswi atau mencapai 48%, dan dianggap kurang hanya ada 6 siswi atau mencapai 10%. Tegasnya siswi dalam memakai jilbab tergolong baik.
b. Bahwa akhlak siswi diketahui juga tergolong baik, karena dari 60 siswi yang diteliti terdapat 30 siswi yang berakhlak baik, yaitu mencapai 50%, sedangkan yang sedang/cukup terdapat 23 siswi atau mencapai 38% dan yang kurang terdapat 7 siswi atau mencapai 12%. Tegasnya akhlak siswi berdasarkan analisa ini tergolong pada kategori baik.
4. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan tekhnik statistik dengan rumus regresi, diketahui hasil akhirnya sebagai berikut, secara total diperoleh nilai Freg empiris sebesar (16,6398327635). Setelah dikonsultasikan dengan F tabel diperoleh, untuk taraf kepercayaan 1% = 4,00 dan untuk taraf kepercayaan 5% = 7,08. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ternyata nilai motivasi berpakaian jilbab mempunyai hubungan dengan akhlak siswi jauh diatas nilai harga F tabel, jadi hipotesa yang menyatakan “terdapat hubungan positif antara motivasi berpakaian jilbab dengan akhlak siswi SMUN 5 Semarang” dapat diterima kebenarannya. Dengan kata lain semakin sering atau semakin tinggi keinginan siswi untuk memakai jilbab, maka semakin baik pula akhlak siswi dalam kehidupan sehari-hari.
B. Saran – Saran
Berdasarkan pada observasi dan analisa data penelitian serta kesimpulan diatas menunjukkan bahwa ada hubungan motivasi berpakaian jilbab dengan akhlak siswi SMUN 5 Semarang. Walau telah diketahui bahwa motivasi berpakaian jilbab dan akhlak termasuk dalam kategori tinggi tetapi masih dibawah 50%. Ini berarti perlu adanya upaya peningkatan baik dalam berpakaian jilbab ataupun akhlak siswi.
Untuk itu penulis akan menyampaikan beberapa sumbangan pikiran berupa saran-saran sebagai berikut :
1. Lembaga Pendidikan
Hendaknya lembaga pendidikan lebih memberikan perhatian terhadap keberlangsungan dari pelaksanaan praktek ajaran agama dengan himbauan-himbauan yang bersifat anjuran demi terciptanya akhlak yang baik, baik dalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah.
2. Pendidik
Bagi pendidik hendaknya meningkatkan rasa keagamaan yang betul-betul mendalam selaras dengan kemajuan budaya melaluyi kegiatan serta aktivitas keagamaan baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler melalui penanaman kesadaran keagamaan bagi para siswi dengan mengadakan aktivitas keagamaan pada waktu-waktu tertentu, misalnya hari besar Islam ataupun pada bulan ramadlan sehingga nilai-nilai keagamaan akan tertanam dan melekat pada jiwa mereka yang mengakibatkan akhlak dan perilakunya selalu dijiwai oleh nilai-nilai agama yang Islami, baik itu dalam beribadah ataupun dalam pergaulan sehari-hari dengan orang lain.
3. Bagi Siswi
Dalam interaksi sosial baik didalam kelas maupun diluar kelas, hendaknya bisa membawa diri kejalan yang benar sesuai dengan norma susila dan agama, sehingga akan selalu mencerminkan wanita muslimah yang berguna bagi nusa bangsa dan agama.
Kamis, 17 November 2011
Pernikahan Ajaran Islam
TATA CARA PERKAWINAN DALAM ISLAM
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara perkawinan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang Shahih (sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih -peny), secara singkat penulis sebutkan dan jelaskan seperlunya :
1. Khitbah (Peminangan)
Seorang muslim yang akan mengawini seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain, dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq ‘alaihi). Dalam khitbah disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi No. 1093 dan Darimi).
2. Aqad Nikah
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi :
a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
b. Adanya Ijab Qabul.
c. Adanya Mahar.
d. Adanya Wali.
e. Adanya Saksi-saksi.
Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.
3. Walimah
Walimatul ‘urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya
diundang orang-orang miskin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mengundang orang-orang kaya saja berarti makanan itu sejelek-jelek makanan.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya “Berpacaran” terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.
Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk
menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari’at Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani)
3. Menuntut Mahar Yang Tinggi
Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.
Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah. (Lihat Irwa’ul Ghalil 6, hal. 347-348).
4. Mengikuti Upacara Adat
Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.
Sungguh sangat ironis…!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa’ Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa’ Wal Banin (=semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.Dari Al-Hasan, bahwa ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : Birafa’ Wal Banin. ‘Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?”.
‘Aqil menjelaskan :
Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya. 7. Pelanggaran Lain
Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar.
KHATIMAH
Rumah tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi Sakinah (ketentraman jiwa), Mawaddah (rasa cinta) dan Rahmah (kasih sayang), Allah berfirman :
kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya
masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.Sehingga upaya untuk mewujudkan perkawinan dan rumah tangga yang mendapat keridla’an Allah dapat terealisir, akan tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan.
Bila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa : 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.
Marilah kita berupaya untuk melakasanakan perkawinan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami, serta kita wajib meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam.
Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridlai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ali-Imran : 19).
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara perkawinan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang Shahih (sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih -peny), secara singkat penulis sebutkan dan jelaskan seperlunya :
1. Khitbah (Peminangan)
Seorang muslim yang akan mengawini seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain, dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq ‘alaihi). Dalam khitbah disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi No. 1093 dan Darimi).
2. Aqad Nikah
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi :
a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
b. Adanya Ijab Qabul.
c. Adanya Mahar.
d. Adanya Wali.
e. Adanya Saksi-saksi.
Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.
3. Walimah
Walimatul ‘urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya
diundang orang-orang miskin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mengundang orang-orang kaya saja berarti makanan itu sejelek-jelek makanan.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- “Artinya : Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim 4:154 dan Baihaqi 7:262 dari Abu Hurairah).
- “Artinya : Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang taqwa”. (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim 4:128 dan Ahmad 3:38 dari Abu Sa’id Al-Khudri).
Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya “Berpacaran” terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.
Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk
menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari’at Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
- “Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani)
3. Menuntut Mahar Yang Tinggi
Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.
Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah. (Lihat Irwa’ul Ghalil 6, hal. 347-348).
4. Mengikuti Upacara Adat
Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.
Sungguh sangat ironis…!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
- “Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”. (Al-Maaidah : 50).
- “Artinya : Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali-Imran : 85).
Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa’ Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa’ Wal Banin (=semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.Dari Al-Hasan, bahwa ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : Birafa’ Wal Banin. ‘Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?”.
‘Aqil menjelaskan :
- “Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka ‘Alaiykum” (= Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain).
- “Baarakallahu laka wa baarakaa ‘alaiyka wa jama’a baiynakumaa fii khoir”
- ‘Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do’a : (Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir) = Mudah-mudahan Allah memberimu keberkahan, Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad 2:38, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim 2:183, Ibnu Majah dan Baihaqi 7:148).
Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya. 7. Pelanggaran Lain
Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar.
KHATIMAH
Rumah tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi Sakinah (ketentraman jiwa), Mawaddah (rasa cinta) dan Rahmah (kasih sayang), Allah berfirman :
- “Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga) telah menjadikan diantaramu (suami, istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Ar-Ruum : 21).
kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya
masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.Sehingga upaya untuk mewujudkan perkawinan dan rumah tangga yang mendapat keridla’an Allah dapat terealisir, akan tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan.
Bila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa : 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.
Marilah kita berupaya untuk melakasanakan perkawinan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami, serta kita wajib meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam.
Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridlai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ali-Imran : 19).
- “Artinya : Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqaan : 74)
Berdakwah Ajaran Agama Islam
KEKELIRUAN masyarakat terhadap sistem dan tafsiran politik negara mengakibatkan berlakunya perselisihan pendapat. Jika tidak bijak ditangani, ia boleh membawa kepada kepincangan yang kritikal.
Dalam konteks politik menurut syariah Islam (siasah syariah), politik tidak hanya melibatkan aktiviti atau usaha mendapatkan kuasa, tetapi lebih penting ia untuk menguruskan kuasa tersebut dalam menegakkan suruhan berdakwah dengan menghayati ajaran Islam.
Siasah syariah merupakan istilah yang berkaitan ilmu mengenai urusan kenegaraan. Sahibul al-Bahr al-Ra'iq menterjemahkan siasah syariah sebagai sebarang langkah oleh pemerintah untuk kepentingan rakyat yang dirasakan baik walaupun tidak berdasarkan nas atau dalil khusus tertentu.
Allah SWT mengutuskan Rasulullah SAW sebagai contoh terbaik kepada umat manusia untuk menyampaikan risalah-Nya melalui al-Quran. Ia bagi mengajak manusia melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran dalam segala aspek termasuk hal kemasyarakatan dan kenegaraan mengikut syariat Allah.
Siasah syariah adalah paksi kepada kejayaan pemerintahan Rasulullah SAW. Baginda pernah mengadakan rundingan bersama pelbagai puak yang berpengaruh daripada kaum Quraisy serta mengikat perjanjian dengan kabilah Arab untuk menyebarkan agama Islam di kelompok atau negara masing-masing.
Bagaimanapun, tidak semua usaha Nabi berjaya kerana baginda tidak bersetuju dengan perundingan yang dimeterai, seperti rundingan baginda bersama Bani Syaiban. Ini kerana mereka memberi syarat untuk mengambil pemerintahan Rasulullah jika dakwah Islam berkesan.
Ini menunjukkan dasar keterbukaan Rasulullah SAW yang melaksanakan kaedah siasah syariah untuk mempertahankan negara walaupun tidak berjaya menyebarkan ajaran Islam.
Oleh itu, Malaysia sebagai negara yang memartabatkan Islam sebagai agama Persekutuan perlu mencontohi dan mengutamakan kaedah siasah syariah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Inilah yang ditekankan oleh Dipertua Yayasan Sofa, Dr. Yusri Mohamad dalam kertas kerjanyaSiasah Syariah Sebagai Instrumen Memelihara Keutuhan dan Kestabilan Negara pada seminar Wacana Pemikiran dan Peradaban Ummah 3 di Universiti Antarabangsa Islam Malaysia (UIAM), Gombak, Selangor baru-baru ini.
Seminar bertemakan Siasah Syariah Dalam Konteks Religio Politik Semasa Malaysia' itu dihadiri kira-kira 100 peserta terdiri daripada pelajar UIAM, orang awam dan pertubuhan bukan kerajaan (NGO).
Ia dianjurkan oleh Pertubuhan Muafakat Sejahtera masyarakat Malaysia (Muafakat) dengan kerjasama Jabatan Kemajuan islam Malaysia (Jakim) dan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS).
Antara pembentang kertas kerja ialah Presiden Pertubuhan Persahabatan Dakwah Global, Datuk Mohd. Nakhaie Ahmad; Pensyarah Jabatan Usuluddin dan Perbandingan Agama UIAM, Prof. Madya Datuk Dr. Yusoff Mohammad; Presiden Ikatan Muslimin Malaysia (Isma), Abdullah Zaik Abd. Rahman dan Felo Amat Utama Akademik Institut Antarabangsa Tamadun dan Pemikiran Islam (ISTAC), Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady.
Turut hadir, Ahli Parlimen Kulim Bandar Baharu, Datuk Zulkifli Nordin; Exco agama kerajaan Selangor, Datuk Dr. Hasan Ali; Timbalan Ketua Pengarah (Dasar) Jakim, Razali Shahabudin dan Presiden Wacana, Ismail Mina Ahmad.
Yusri berkata, siasah syariah sangat penting diamalkan kerana ia mampu menawarkan fahaman politik Islam yang dapat mengurangkan pertentangan dan kebencian antara parti politik Islam dan ahlinya.
Jelasnya, siasah syariah boleh menjadi asas tambahan kepada polisi dan dasar mempertahankan aliran Ahli Sunnah wal-Jamaah (ASWJ) sebagai satu-satunya aliran yang didokong oleh umat Islam di Malaysia.
Malah, ia juga mendokong undang-undang dan penguatkuasaan terhadap mana-mana individu atau kumpulan yang cuba membawa aliran selain ASWJ.
"Siasah syariah juga sangat penting dalam mengurangkan ketegangan dalam masyarakat akibat persoalan politik kerana perbezaan politik bukan sehingga perselisihan akidah. Oleh itu, politik merupakan medan perpaduan umat bukan perpecahan," katanya.
Menurut Yusri, cabaran untuk merealisasikan siasah syariah adalah menangani usaha sesetengah pihak yang sering mengelirukan kaedah sebenar siasah syariah kerana sentimen yang terlalu kuat dalam menyokong atau menentang seseorang tokoh.
Sementara itu, Ismail Mina berkata, seminar itu bertujuan membincang dan mencari penyelesaian berhubung isu politik di negara ini.
Katanya, kecenderungan membahaskan isu tersebut didorong oleh dua faktor utama iaitu kerana terdesak dan faktor fundamental.
"Faktor yang pertama adalah terdesak kerana fenomena politik yang dicetuskan oleh kumpulan yang ingin mendominasi kuasa politik semata-mata, manakala faktor fundamental kerana kita mahu memelihara keutuhan agama Islam serta maruah umat Islam melalui instrumen kuasa politik umat," katanya.
Seorang lagi pembentang kertas kerja, Nakhaie berkata, jika siasah syariah dapat difahami dan diamalkan dengan betul maka ia sangat berpotensi menjadi landasan mengukuhkan keutuhan dan kestabilan negara.
Bagaimanapun, jika ia tidak diamalkan ia akan mengakibatkan kepincangan politik yang akan memberi kesan mendalam kepada kehidupan dalam pelbagai bidang.
"Contohnya, akan berlakunya perpecahan dalam kalangan umat Islam dan pergaduhan sering terjadi di antara sesama parti politik. Pelbagai pertubuhan diinstitusikan sebagai gerakan yang mewujudkan golongan pemerintah dan pembangkang bahkan pemberontak.
"Kesannya, nyawa rakyat menjadi taruhan dan kezaliman semakin berleluasa seperti yang berlaku di negara timur tengah yang mengakibatkan ribuan manusia terkorban kerana pergolakan dalaman yang berlaku," katanya.
Justeru, pemimpin perlu mengamalkan kaedah siasah syariah sebagaimana yang dilaksanakan para khalifah suatu masa dahulu sehingga berjaya menggerakkan kepimpinan bersama dakwah Islamiah dengan kekuatan tentera dengan lebih meluas ke seluruh dunia.
Nakhaie membentangkan kertas kerja bertajuk Siasah Syariah dan Kepentingannya Dalam Menguruskan Kepentingan Muslimin'.
Bagi merealisasikan agenda tersebut, Dr. Yusoff pula berkata, orang Melayu perlu bersatu walaupun terpaksa mengorbankan parti bagi memperjuangkan martabat Islam dan Melayu.
"Pemimpin perlu bersedia bersama rakyat, tidak menunjuk-nunjuk kemewahan, mentadbir negara dengan berpaksikan agama Islam dan sifat mahmudah serta mengurangkan perebutan kuasa tetapi bersama-sama mengukuhkan parti," katanya.
Beliau berkata demikian semasa membentangkan kertas kerjanya bertajuk Siasah Syariah Sebagai Mekanisme Pengukuhan Kuasa Politik Ummah Islam Malaysia.
Dalam konteks politik menurut syariah Islam (siasah syariah), politik tidak hanya melibatkan aktiviti atau usaha mendapatkan kuasa, tetapi lebih penting ia untuk menguruskan kuasa tersebut dalam menegakkan suruhan berdakwah dengan menghayati ajaran Islam.
Siasah syariah merupakan istilah yang berkaitan ilmu mengenai urusan kenegaraan. Sahibul al-Bahr al-Ra'iq menterjemahkan siasah syariah sebagai sebarang langkah oleh pemerintah untuk kepentingan rakyat yang dirasakan baik walaupun tidak berdasarkan nas atau dalil khusus tertentu.
Allah SWT mengutuskan Rasulullah SAW sebagai contoh terbaik kepada umat manusia untuk menyampaikan risalah-Nya melalui al-Quran. Ia bagi mengajak manusia melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran dalam segala aspek termasuk hal kemasyarakatan dan kenegaraan mengikut syariat Allah.
Siasah syariah adalah paksi kepada kejayaan pemerintahan Rasulullah SAW. Baginda pernah mengadakan rundingan bersama pelbagai puak yang berpengaruh daripada kaum Quraisy serta mengikat perjanjian dengan kabilah Arab untuk menyebarkan agama Islam di kelompok atau negara masing-masing.
Bagaimanapun, tidak semua usaha Nabi berjaya kerana baginda tidak bersetuju dengan perundingan yang dimeterai, seperti rundingan baginda bersama Bani Syaiban. Ini kerana mereka memberi syarat untuk mengambil pemerintahan Rasulullah jika dakwah Islam berkesan.
Ini menunjukkan dasar keterbukaan Rasulullah SAW yang melaksanakan kaedah siasah syariah untuk mempertahankan negara walaupun tidak berjaya menyebarkan ajaran Islam.
Oleh itu, Malaysia sebagai negara yang memartabatkan Islam sebagai agama Persekutuan perlu mencontohi dan mengutamakan kaedah siasah syariah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Inilah yang ditekankan oleh Dipertua Yayasan Sofa, Dr. Yusri Mohamad dalam kertas kerjanyaSiasah Syariah Sebagai Instrumen Memelihara Keutuhan dan Kestabilan Negara pada seminar Wacana Pemikiran dan Peradaban Ummah 3 di Universiti Antarabangsa Islam Malaysia (UIAM), Gombak, Selangor baru-baru ini.
Seminar bertemakan Siasah Syariah Dalam Konteks Religio Politik Semasa Malaysia' itu dihadiri kira-kira 100 peserta terdiri daripada pelajar UIAM, orang awam dan pertubuhan bukan kerajaan (NGO).
Ia dianjurkan oleh Pertubuhan Muafakat Sejahtera masyarakat Malaysia (Muafakat) dengan kerjasama Jabatan Kemajuan islam Malaysia (Jakim) dan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS).
Antara pembentang kertas kerja ialah Presiden Pertubuhan Persahabatan Dakwah Global, Datuk Mohd. Nakhaie Ahmad; Pensyarah Jabatan Usuluddin dan Perbandingan Agama UIAM, Prof. Madya Datuk Dr. Yusoff Mohammad; Presiden Ikatan Muslimin Malaysia (Isma), Abdullah Zaik Abd. Rahman dan Felo Amat Utama Akademik Institut Antarabangsa Tamadun dan Pemikiran Islam (ISTAC), Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady.
Turut hadir, Ahli Parlimen Kulim Bandar Baharu, Datuk Zulkifli Nordin; Exco agama kerajaan Selangor, Datuk Dr. Hasan Ali; Timbalan Ketua Pengarah (Dasar) Jakim, Razali Shahabudin dan Presiden Wacana, Ismail Mina Ahmad.
Yusri berkata, siasah syariah sangat penting diamalkan kerana ia mampu menawarkan fahaman politik Islam yang dapat mengurangkan pertentangan dan kebencian antara parti politik Islam dan ahlinya.
Jelasnya, siasah syariah boleh menjadi asas tambahan kepada polisi dan dasar mempertahankan aliran Ahli Sunnah wal-Jamaah (ASWJ) sebagai satu-satunya aliran yang didokong oleh umat Islam di Malaysia.
Malah, ia juga mendokong undang-undang dan penguatkuasaan terhadap mana-mana individu atau kumpulan yang cuba membawa aliran selain ASWJ.
"Siasah syariah juga sangat penting dalam mengurangkan ketegangan dalam masyarakat akibat persoalan politik kerana perbezaan politik bukan sehingga perselisihan akidah. Oleh itu, politik merupakan medan perpaduan umat bukan perpecahan," katanya.
Menurut Yusri, cabaran untuk merealisasikan siasah syariah adalah menangani usaha sesetengah pihak yang sering mengelirukan kaedah sebenar siasah syariah kerana sentimen yang terlalu kuat dalam menyokong atau menentang seseorang tokoh.
Sementara itu, Ismail Mina berkata, seminar itu bertujuan membincang dan mencari penyelesaian berhubung isu politik di negara ini.
Katanya, kecenderungan membahaskan isu tersebut didorong oleh dua faktor utama iaitu kerana terdesak dan faktor fundamental.
"Faktor yang pertama adalah terdesak kerana fenomena politik yang dicetuskan oleh kumpulan yang ingin mendominasi kuasa politik semata-mata, manakala faktor fundamental kerana kita mahu memelihara keutuhan agama Islam serta maruah umat Islam melalui instrumen kuasa politik umat," katanya.
Seorang lagi pembentang kertas kerja, Nakhaie berkata, jika siasah syariah dapat difahami dan diamalkan dengan betul maka ia sangat berpotensi menjadi landasan mengukuhkan keutuhan dan kestabilan negara.
Bagaimanapun, jika ia tidak diamalkan ia akan mengakibatkan kepincangan politik yang akan memberi kesan mendalam kepada kehidupan dalam pelbagai bidang.
"Contohnya, akan berlakunya perpecahan dalam kalangan umat Islam dan pergaduhan sering terjadi di antara sesama parti politik. Pelbagai pertubuhan diinstitusikan sebagai gerakan yang mewujudkan golongan pemerintah dan pembangkang bahkan pemberontak.
"Kesannya, nyawa rakyat menjadi taruhan dan kezaliman semakin berleluasa seperti yang berlaku di negara timur tengah yang mengakibatkan ribuan manusia terkorban kerana pergolakan dalaman yang berlaku," katanya.
Justeru, pemimpin perlu mengamalkan kaedah siasah syariah sebagaimana yang dilaksanakan para khalifah suatu masa dahulu sehingga berjaya menggerakkan kepimpinan bersama dakwah Islamiah dengan kekuatan tentera dengan lebih meluas ke seluruh dunia.
Nakhaie membentangkan kertas kerja bertajuk Siasah Syariah dan Kepentingannya Dalam Menguruskan Kepentingan Muslimin'.
Bagi merealisasikan agenda tersebut, Dr. Yusoff pula berkata, orang Melayu perlu bersatu walaupun terpaksa mengorbankan parti bagi memperjuangkan martabat Islam dan Melayu.
"Pemimpin perlu bersedia bersama rakyat, tidak menunjuk-nunjuk kemewahan, mentadbir negara dengan berpaksikan agama Islam dan sifat mahmudah serta mengurangkan perebutan kuasa tetapi bersama-sama mengukuhkan parti," katanya.
Beliau berkata demikian semasa membentangkan kertas kerjanya bertajuk Siasah Syariah Sebagai Mekanisme Pengukuhan Kuasa Politik Ummah Islam Malaysia.
KISAH FIR'AUN DAN NABI MUSA
Dalam Surah Yunus ayat 90-92, Al-Qur'an menyatakan bahwa pada suatu masa nanti bangkai Fir'aun yang tenggelam sewaktu mengejar Nabi Musa as akan dikembalikan kepada manusia (dapat disaksikan dengan mata kepala) untuk menjadi bukti akan kebenaran dan kebesaran ayat-ayat Allah itu.
"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."(QS. 10:90-92)
"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."(QS. 10:90-92)
Perlu diketahui, bahwa ayat ini turun setelah 21 abad masa Fir'aun.Orang sudah tidak tahu lagi dimana batang tubuh Fir'aun. Tetapi sungguh menakjubkan, bahwa setelah terpendam selama lebih kurang 40 abad, yaitu tepatnya tanggal 6 Juli 1879 para ilmuwan Archeologi telah berhasil menemukan batang tubuh Fir'aun, dan hal ini sekaligus menemukan bukti akan kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Allah, bukan ciptaan Nabi Muhammad Saw !
Berikut akan saya kutipkan tulisan Yoesof Sou'yb dalam majalah 'Harmonis' tentang kesesuaian antara Surah Yunus 90-92 dengan kenyataan sejarah yang menggemparkan itu.
Wahyu Ilahi yang diturunkan pada abda ke-7 Masehi itu menegaskan bahwa badan Pharaoh/Fir'aun yang telah menjadi korban, akan diselamatkan sebagai pertanda bagi orang belakangan.Dalam ayat asli berbunyi : 'nunajji-ka bi badani-ka'.
Sedangkan The Holy Bible tidak bercerita bahwa badan Fir'aun/Pharaoh itu diselamatkan untuk pertanda bagi orang belakangan, pada Exodus 14:29-30 hanya diceritakan mengenai sbb :"But the children of Israel walked upon dry land in the midst orf the sea; and the waters were a wall into them on their right hand and on the lef. Thus the Loard saved Israel that day cut of the hand of the Egyptians; and Israeli saw the Egyptians dead upon the sea shore"
'Tetapi segala Bani Israel itu telah berjalan diatas kekeringan tanah ditengah-tengah laut, maka karir nya menjadi dewala (dinding tembok) bagi mereka pada sebelah kanan-kirinya, demikianlah dilepaskan Tuhan segala orang Israel pada hari itu juga dari tangan orang Mesir, maka dilihat orang Israel segala orang Mesir itu mati terhantar dipantai laut.'
The Holy Bible hanya menceritakan tentang kematian anak-anak Israel (Pharaoh beserta pasukannya), tetapi tidak bercerita bahwa tubuh Pharaoh/Fir'aun diselamatkan untuk pertanda dan pelajaran bagi orang-orang sesudah mereka.
Sekarang mari kita sedikit menyinggung pada saat Nabi Saw menceritakan wahyu Allah ini.Penduduk Mekkah semenjak masa yang panjang sebelum Nabi Muhammad Saw telah menciptakan tradisi dagang.
Pada musim panas (al-shaif) kafilah-kafilah dagang berangkat ke Utara (Mesir, Palestina, Syria, Irak, Iran) dan pada musim dingin (al-syitak) kafilah-kafilah dagang bergerak keselatan (Yaman, Ethiopia).
Jadi penduduk Mekkah pada masa Nabi Muhammad Saw itu sudah tidak merasa asing terhadap keadaan di Mesir pada masa itu. Piramid-piramid raksasa, kuil-kuil raksasa, tiang-tiang obleisk dan Spinx, semua itu cuma saksi bisu yang tiada bisa bercerita apapun kepada manusia, apalagi akan menjumpai dan menyaksikan batang tubuh Pharaoh masa itu.
Coba anda merenung sejenak dalam imajinasi anda, betapa sambutan penduduk Mekkah terhadap pemberitaan Nabi besar Muhammad Saw bahwa jenasah Fir'aun diselamatkan oleh Tuhan sebagai pertanda bagi orang-orang belakangan !
Dalam abad ke-19 dengan kunci batu-Rosetta, yang pada akhirnya berheasil diterjemahkan huruf-huruf Demotik dan Hiroglipik pada batu-Rosetta itu oleh Jean Francois Champollion (1790-1832 M), maka coretan-coretan cakar ayam pada dinding-dinding Pyramid, dinding-dinding kuil dan tiang-tiang obelisk, mulai bercerita tentang masa silam.
Jika menjelang abad ke-19 pengetahuan manusia tentang sejarah cuma sampai abad ke-4 sebelum Masehi, maka sejak abad ke-19 pengetahuan sejarah telah menjangkau masa tiga puluh abad sebelum masehi.
Tetapi jasad Pharaoh dari setiap dinasti, yang dikisahkan sedemikian rupa oleh tiang-tiang obelisk dan dinding-dinding piramid belum juga dijumpai.
Expedisi berbagai bangsa bagaikan kena rangsang untuk mengerahkan kegiatan dan pembiayaan untuk menemukannya. Pada tanggal 6 Juli 1879 terjadilah apa yang dipandang 'peristiwa terbesar' bagi dunia sejarah. The Historian's History of The World vol.1 edisi 1926, dalam puluhan halamannya melukiskan peristiwa terbesar itu dengan sangat indahnya dan panjang lebar.
Ir. Muhammad Ahmad Abdar-Rasul, seorang Arkeolog Mesir yang mengabdikan hidupnya untuk melakukan riset tanpa jemu-jemunya, telah berhasil pada akhirnya memberikan petunjuk kepada ekspedisi ilmiah Jerman - Mesir yang berada dibawah pimpinan Messrs, Emil Brugsch dan Ahmad Effendi Kamal itu, yaitu sebuah lubang kecil yang terletak tinggi pada dinding batu karang di 'lembah raja-raja' (Valley of Kings) dalam wilayah Mesir atas.
Dengan peralatan dan tenaga manusia yang dipersiapkan sedemikian rupa pada tanggal 6 Juli 1879 dilakukan penerobosan kedalam relung sempit yang berceruk-ceruk dan berliku-liku itu, dan pada suatu ruangan besar yang terletak jauh disebelah dalam dijumpailah sekian puluh mummi dari para Pharaoh, termasuk mummi Rhamses II (Fir'aun) yang hidup pada masa Nabi Musa as, yaitu Pharaoh terbesar dan teragung dalam sejarah dinasti-dinasti Pharaoh ditanah Mesir.
Buku sejarah terbesar yang puluhan jilid tebalnya terbitan 'Encyclopedia Britannica Inc' menyimpulkan penemuan terbesar itu pada halaman 155 dengan kalimat :
'Nothing is modern discovery has more vividly and suddenly brought the ancient world home to the world of today than the finding of the actual bodies, the very flesh and blood of the Pharaos marvellously preserved to us by the embalmers's venerable art. The discovery has bredged the chasm between the ancient and the new as a midnight flash of lighting from the clouds to the earth.'
Tiada suatuoun didalam penemuan baru yang lebih menggemparkan dan mendadak membawa dunia kuno kepada dunia sekarang ini daripada penemuan jenasah yang sesungguhnya dari pharaoh-pharaoh dalam bentuk daging dan darah, yang dipersiapkan untuk kita secara menakjubkan sekali oleh kepintaran luar biasa dari ahli rempah-rempah yang membalutnya.Penemuan itu telah menutup jurang antara masa purba dengan masa baru bagai pancaran kilat malam hari dari balik mendung keatas bumi.
Buku sejarah yang terpandang karya terbesar dunia itu telah memperdengarkan sambutan demikian hangat dan kagum akan penemuan itu, yang berarti secara sadar atau tidak telah menyambut demikian hangat dan kagum akan kebenaran sebuah wahyu Ilahi dalam Al-Qur'an.
B. Kisah Romawi
Pernyataan tentang kekalahan pasukan Romawi oleh pasukan Persia yang terdapat dalam permulaan Surah Ar-Rum.
Pada tahun 325, raja Konstantin memeluk agama Kristen, dan menjadikan agama ini sebagai agama negara yang resmi (Awal dari terbentuknya konsili Nicea yang mengesahkan Trinitas). Secara spontan, rakyat Romawipunbanyak yang memeluk agama tersebut, sementara itu kekaisaran Persia, penyembah matahari, menolak untuk memeluk agama tersebut.
Adapun raja yang memegang tampuk kekaisaran Romawi pada akhir abad ke-7 M adalah Maurice, seorang raja yang kurang memperhatikan masalah kenegaraan dan politik. Oleh karenanya angkatan bersenjatanya pun kemudian mengadakan kudeta dibawah pimpinan panglimanya yang bernama Pochas.
Setelah mengadakan kudeta, Pochas naik tahta dan menghukum keluarga raja dengan cara yang kejam. Serta mengirim seorang duta ke Persia, yang pada waktu itu dipegang oleh Kisra Chorus II, putra Kisra Anu Syirwan yang adil.
Pada waktu Kisra tahu kejadian kudeta di Romawi, Kisra sangat marah karena Kisra pernah berhutang budi pada Maurice yang sekaligus juga mertuanya itu. Kemudian Kisra memerintahkan untuk memenjarakan duta besar Romawi, serta menyatakan tidak mengakui pemerintahan Romawi yang baru.
Akhirnya Kisra Chorus melancarkan peperangan terhadap Romawi.Angkatan perangnya merayap melintasi sungai Euphrat menuju Syam.Dalam serangan ini Pochas tidak dapat mempertahankan diri terhadap angkatan perang Persia yang telah menguasai kota Antiochia dan El Quds.
Sementara itu penguasa Romawi didaerah jajahan Afrika juga mengirimkan pasukan besar dibawah pimpinan puteranya, yaitu Heraklius. Bertolaklah pasukan tersebut dengan diam-diam melalui jalan laut, sehingga Pochas tidak tahu kedatangan mereka. Tanpa menghadapi perlawanan sama sekali, Heraklius akhirnya berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas.
Walaupun Heraklius berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas, namun Heraklius tidak berhasil menahan badai pasukan Persia. Sehingga Romawi kehilangan daerah jajahannya dan tinggallah kekaisaran Romawi di ibukota saja. Penduduk yang tinggal di ibukota penuh diliputi rasa kekhawatiran akan serangan pasukan Persia yang akan memasuki ibukota.
Setelah berlangsung peperangan selama enam tahun, kaisar Persia mau mengadakan perdamaian dengan Heraklius tetapi dengan satu syarat, Heraklius harus menyerahkan seribu talent emas, seribu talent perak, seribu pakaian dari sutera, seribu kuda dan seribu gadis perawan kepada Kisra.
Sementara pada ibukota Persia dan Romawi terjadi peristiwa tersebut, maka pada bangsa dipusat ibukota Jazirah Arabia, yaitu di Mekkah Almukarromah, terjadi pula hal yang serupa. Dikota tersebut terdapat orang-orang Majusi Persia, penyembah matahari dan api, dan orang-orang Romawi yang beriman kepada ajaran Isa (walau sudah diselewengkan).
Orang Islam dan orang-orang Romawi mengharapkan kemenangan mereka atas orang-orang kafir dan musyrikin, sebagaimana halnya mereka mengharapkan kekalahan orang-orang kafir Mekkah dan orang Persia, sebab mereka merupakan penyembah benda-benda materi. Sementara orang-orang Nasrani, meskipun sebagian dari mereka sudah menyimpang dari ajaran Isa Putra Maryam adalah merupakan saudara dan sahabat terdekat kaum Muslimin.
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata:"Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rabib-rabib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri."(QS. 5:82)
Dengan demikian, pertarungan yang terjadi antara orang-orang Persia dan Romawi menjadi lambang luar pertarungan antara orang-orang Islam dan musuh-musuhnya di Mekkah. Maka pada waktu Persia berhasil mengalahkan orang-orang Romawi pada tahun 616 dan berhasil menguasai seluruh wilayah sebelah Timur negara Romawi, orang-orang Musyrikin pun mendapat kesempatan untuk menghina kaum Muslimin dengan mengatakan : 'Saudara kami berhasil mengalahkan saudara kamu. Demikian pula yang akan kami lakukan kepadamu jika kamu tidak mau mengikuti kami, meninggalkan agama kamu yang baru (Islam).'
Dalam keadaan yang menyakitkan itu, kaum Muslimin Mekkah sedang dalam kondisi yang paling lemah dan buruk dalam segi materi, sampai kemudian turun wahyu Allah kepada Nabi Besar Muhammad Saw :
"Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. 30:1-6)
Sungguh turunnya wahyu ini kepada Nabi Saw merupakan suatu ujian mental dan Spiritual bagi semua sahabat-sahabat beliau. Jika apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw ini tidak terbukti, maka sudah bisa diramalkan akan kehancuran kepercayaan mereka terhadap diri orang yang selama ini mereka percayai dan mereka kasihi.
Beberapa tahun kemudian, Heraklius membuat suatu rencana yang luar biasa untuk mengalahkan Persia. Heraklius tahu bahwa kekuatan angkatan laut Persia sangat lemah, oleh karena itu dia menyiapkan kapal-kapal untuk menyerang Persia dari belakang. Dia bertolak bersama-sama dengan sisa-sisa pasukannya lewat Laut Hitam ke Armenia, dan melakukan serangan kilat terhadap pasukan Persia. Menghadapi serangan mendadak itu, pasukan Persia tidak mampu bertahan dan lari bercerai berai.
Di Asia kecil, Persia memiliki pasukan yang besar.Tetapi Heraklius menyerangnya dengan tiba-tiba dengan kapal-kapal perangnya, dan berhasil menghancurkan pasukan Persia. Setelah memperoleh kemenangan yang besar itu, kembalilah Heraklius keibukota Konstantinopel lewat jalan laut.
Setelah dua peperangan diatas, Heraklius melakukan peperangan yang lain melawan Persia pada tahun 623, 624 dan 625. Akibat peperangan tersebut, pasukan Persia terpaksa menarik diri dari seluruh tanah Romawi, dan Heraklius berada pada pusat yang memungkinkan baginya untuk menembus kejantung kekaisaran Persia. Akhirnya perang yang terakhir terjadi pada bulan Desember 627 disepanjang sungai Dajlah.
Pada waktu Kisra Chorus tidak dapat menahan arus tentara Romawi, ia melarikan diri dari istananya, tetapi kemudian ditahan oleh puteranya 'Siroes' dan dimasukkan kedalam penjara. Puteranya ini membunuh 18 orang saudara-saudaranya yang lain didepan mata sang ayah, Kisra Chorus. Pada hari kelima, Kisra meninggal dunia dalam penjara.
Selanjutnya Siroes pun terbunuh oleh salah seorang saudara kandungnya sendiri yang masih hidup. Maka mulailah pembunuhan-pembunuhan dilingkungan istana. Dalam masa 4 tahun, sudah 9 raja yang memegang tampuk pemerintahan. Dalam situasi yang demikian buruk ini, jelas Persia tidak mungkin dapat melanjutkan peperangannya melawan kerajaan Romawi.
Maka akhirnya Kavadh II, salah seorang putera kisra Chorus yang masih hidup, meminta damai dan mengusulkan pengunduran diri pasukan Persia dari tanah Romawi. Pada bulan Maret tahun 628 M, Heraklius kembali kekonstantinopel dengan pesta besar-besaran.
Umat Islampun yang mendengar kemenangan saudara-saudaranya para orang-orang Romawi ini melakukan tasbih dan syukur kepada Allah Swt. Semakin mendalamlah keyakinan dan kesetiaan mereka kepada Rasulullah Saw.
Edward Gibbon memperkecil arti ramalan Al-Qur'an dengan menghubungkannya dengan surat yang dikirim oleh Rasulullah Muhammad Saw kepada Kisra Choros II.
Tetapi hal ini terbantahkan dengan melihat waktu turunnya ayat tersebut kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya.Surat dari Nabi Saw tersebut dikirim pada tahu ke-7 H, setelah perdamaian Hudaibiah, atau pada tahun 628 M.Sementara Qur'an Surah Ar-Ruum ayat 1-6 yang memuat ramalan tersebut turun pada tahun 616 M, lama sebelum terjadinya Hijrah Nabi dan sahabat-sahabatnya. Jadi antara kedua peristiwa itu terdapat jarak 12 tahun.
Hal ini pun dimuat oleh buku 'Encyclopedia of Religion and Ethics'.
Sejarah Nabi Muhammad saw
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam (Arab: نبي محمد صلى الله عليه وسلم) adalah pesuruh Allah yang terakhir. Baginda adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam dan merupakan Rasulullah bagi seluruh umat di dunia. Sesungguhnya Nabi Muhammad merupakan satu anugerah dan kurniaan Allah SWT kepada umat manusia untuk menunjukkan jalan yang lurus dan benar. Baginda bukan sahaja diangkat sebagai seorang rasul tetapi juga sebagai khalifah, yang mengetuai angkatan tentera Islam, membawa perubahan kepada umat manusia, mengajarkan tentang erti persaudaraan, akhlak dan erti kehidupan yang segalanya hanya kerana Allah SWT. Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah, Arab Saudi dan kembali ke rahmatullah di Madinah. Walaupun diketahui bahawa Muhammad merupakan Rasul dan Nabi terakhir bagi umat manusia dan seluruh alam oleh orang Islam, tetapi orang-orang Yahudi dan Kristian enggan mengiktiraf Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Nabi Muhammad merupakan pelengkap ajaran Islam setelah Nabi Musa dan Nabi Isa.Beliau juga digelar Al Amin yang bermaksud 'yang terpuji'.
Sejarah Agama Islam
Islam bermula pada tahun 622 apabila wahyu pertama diturunkan kepada rasul yang terakhir iaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi. Sejarah Islam menceritakan perkembangan Islam sehinggalah sekarang.
Islam muncul di Semenanjung Arab pada kurun ke-7 masihi apabila Nabi Muhammad s.a.w. mendapat wahyu daripada Allah s.w.t. Selepas wafatnya Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang sejauh Lautan Atlantik di Barat dan Asia Tengah di Timur. Lama-kelamaan umat Islam berpecah dan terdapat banyak kerajaan-kerajaan Islam lain yang muncul.
Walau bagaimanapun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umaiyyah, kerajaan Abbasiyyah, kerajaan Seljuk Turki Seljuk, kerajaan Uthmaniyyah Turki Uthmaniyyah, Empayar Moghul India, dan Kesultanan Melaka telah menjadi antara empayar yang terkuat dan terbesar di dunia. Tempat pembelajaran ilmu yang hebat telah mewujudkan satu Tamadun Islam yang agung. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli falsafah dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutamanya pada Zaman Keemasan Islam.
Pada kurun ke-18 dan ke-19 masihi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropah. Selepas Perang Dunia I, Empayar Turki Uthmaniyyah iaitu empayar Islam terakhir tumbang menyembah bumi.
Islam muncul di Semenanjung Arab pada kurun ke-7 masihi apabila Nabi Muhammad s.a.w. mendapat wahyu daripada Allah s.w.t. Selepas wafatnya Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang sejauh Lautan Atlantik di Barat dan Asia Tengah di Timur. Lama-kelamaan umat Islam berpecah dan terdapat banyak kerajaan-kerajaan Islam lain yang muncul.
Walau bagaimanapun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umaiyyah, kerajaan Abbasiyyah, kerajaan Seljuk Turki Seljuk, kerajaan Uthmaniyyah Turki Uthmaniyyah, Empayar Moghul India, dan Kesultanan Melaka telah menjadi antara empayar yang terkuat dan terbesar di dunia. Tempat pembelajaran ilmu yang hebat telah mewujudkan satu Tamadun Islam yang agung. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli falsafah dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutamanya pada Zaman Keemasan Islam.
Pada kurun ke-18 dan ke-19 masihi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropah. Selepas Perang Dunia I, Empayar Turki Uthmaniyyah iaitu empayar Islam terakhir tumbang menyembah bumi.
Kamis, 10 November 2011
Pacaran Dalam Islam
Pacaran yang baik menurut ajaran islam itu sebenarnya sangat dianjurkan karena semuanya itu juga akan di pertanggung jawabkan di hari akhir nanti. Pacaran dalam islam sangat ketat bagi anak-anak remaja jaman sekarang. Remaja jaman sekarang mungkin sudah banyak yang lepas dari ajaran-ajaran islam. Gaya berpacaran anak remaja sekarang sudah sangat kelewat batas. Pacaran kalau tidak dengan nafsu mungkin sudah gak asyik (kata sebagian besar anak remaja). tapi apakah mereka tidak takut dengan hukuman yang akan mereka dapat nantinya?. Mungkin banyak yang berfikir seperti itu, tapi setelah mereka bertemu dengan lawan jenisnya atau pacarnya, semuanya itu tidak berlaku lagi. Yang pasti semua itu terpengaruh oleh hasutan setan. Masih ingatkan dengan sabda Rosulullah, "jika dua lawan jenis berduaan, maka yang ketiga adalah setan". Mungkin sebab itulah para anak remaja jaman sekarang kelewat batas dalam berpacaran.
1. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kita kepada perbuatan zina, Di antara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis ditempat yang sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.
2. Tidak menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya karena sudah ada hukum islam nya.
3. Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, karena mengakibatkan munculnya hawa nafsu.
4. Harus menjaga mata atau pandangan kita ke pandangan yang mengarah pada timbulnya hawa nafsu. Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang
sering membawa kepada perbuatan zina.
5. Menutup aurat Sangat diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai make up dan sebagainya setiap langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina mata dengannya. Di hari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga, apa lagi masuk surga.
Pacaran dalam hukum islam sebenarnya syah-syah saja, asal ada batasannya. Tapi apakah anda tahu apa batasan tersebut? pasti banyak yang gak tahu!. saya pun juga baru mempelajari tentang hal tersebut, setelah saya baca-baca tentang batasan-batasan tersebut.
Batasan dalam berpacaran menurut hukum islam diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kita kepada perbuatan zina, Di antara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis ditempat yang sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.
2. Tidak menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya karena sudah ada hukum islam nya.
3. Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, karena mengakibatkan munculnya hawa nafsu.
4. Harus menjaga mata atau pandangan kita ke pandangan yang mengarah pada timbulnya hawa nafsu. Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang
sering membawa kepada perbuatan zina.
5. Menutup aurat Sangat diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai make up dan sebagainya setiap langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina mata dengannya. Di hari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga, apa lagi masuk surga.
Selagi batasan di atas tidak dilanggar, maka pacaran hukumnya boleh. Tetapi persoalannya mungkinkah pacaran tanpa berpandang-pandangan, berpegangan, bercanda ria, berciuman, dan lain sebagainya. setelah itu terserah anda bagaimana menyikapinya. Jika anda sudah tahu akibat dari perbuatan, anda harus berfikir dewasa dan menyikapinya.
Aturan Pergaulan Ikhwan dan Akhwat dalam Islam
Fenomena seks bebas di kalangan remaja saat ini sangat mengkhawatirkan. Gambaran maraknya budaya permisifisme dan hedonisme ini dapat kita lihat dari hasil penelitian Synovate di empat kota; Jakarta, Bandung, Medan dan Surabaya (lihat Republika, edisi 11 Maret 2006).
Dari 450 responden putra-putri usia 15-24 tahun kita menemukan kenyataan yang sangat mencengangkan. Robby Susatyo—Manager Director Synovate—mengemukakan data berikut ini:
1. Sekitar 16 % remaja di empat kota itu mengaku sudah berhubungan intim saat berusia antara 13-15 tahun.
2. 44 % responden lainnya mengaku mulai ‘mencicipi’ seks sejak usia 16-18 tahun. Sampai disini kita dapat menghitung bahwa 50 % responden mengaku telah berhubungan seks saat mereka belum lagi lepas akil baligh.
3. Sekitar 35 % responden mengaku mengenal seks pertama kali dari film porno. Sisanya mengaku mengetahui seks dari pengalaman sesama teman.
4. 40 % responden mengaku pertama kali melakukan hubungan seks di rumah mereka; 26 % mengaku senang melakukannya di tempat kos; 26 % lainnya senang melakukannya di kamar hotel.
Sangat memprihatinkan. Inilah yang terjadi pada sebagian remaja. Kita tidak tahu persis fakta sesungguhnya; mungkin jumlahnya lebih sedikit, mungkin juga lebih besar.
Pertanyaannya adalah, apa yang mesti kita lakukan? Menurut saya, tidak ada pilihan lain, kecuali dengan berusaha menegakkan dan menjungjung tinggi akhlak Islam. Dan untuk itu setiap kita hendaknya merasa bertanggung jawab untuk mewujudkannya.
Rambu-rambu Islam tentang pergaulan
Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil (sempurna). Agama mulia ini diturunkan dari Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui tentang seluk beluk ciptaan-Nya. Dia turunkan ketetapan syariat agar manusia hidup tenteram dan teratur.
Diantara aturan yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia adalah aturan mengenai tata cara pergaulan antara pria dan wanita. Berikut rambu-rambu yang harus diperhatikan oleh setiap muslim agar mereka terhindar dari perbuatan zina yang tercela:
Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih baik bagi mereka…katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” (QS. 24: 30-31).
Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Maka jagalah kedua biji mata ini agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, “Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).
Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami agar terhindar dari fitnah. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman, “…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. 24: 31).
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. 33: 59)
Dalam hal menjaga aurat, Nabi pun menegaskan sebuah tata krama yang harus diperhatikan, beliau bersabda: “Tidak dibolehkan laki-laki melihat aurat (kemaluan) laki-laki lain, begitu juga perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidak boleh laki-laki berkumul dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh berkemul dengan sesama perempuan dalam satu kain.” (HR. Muslim)
Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS. 17: 32) misalnya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR. Ahmad).
Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan selera’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah, “Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. 33: 31)
Berkaitan dengan suara perempuan Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)
Kelima, hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk berjabatan tangan sebagaimana dicontohkan Nabi saw, “Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita.” (HR. Malik, Tirmizi dan Nasa’i).
Dalam keterangan lain disebutkan, “Tak pernah tangan Rasulullah menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hal ini dilakukan Nabi tentu saja untuk memberikan teladan kepada umatnya agar melakukan tindakan preventif sebagai upaya penjagaan hati dari bisikan syaithan.Wallahu a’lam.
Selain dua hadits di atas ada pernyataan Nabi yang demikian tegas dalam hal ini, bekiau bersabda: “Seseorang dari kamu lebih baik ditikam kepalanya dengan jarum dari besi daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani).
Keenam, hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara pria dengan wanita dalam satu tempat. Hal ini diungkapkan Abu Asied, “Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata: “Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bagian tengah jalan; bagian kalian adalah pinggir jalan (HR. Abu Dawud).
Selain itu Ibnu Umar berkata, “Rasulullah melarang laki-laki berjalan diantara dua wanita.” (HR. Abu Daud).
Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa pria dan wanita memang harus menjaga batasan dalam pergaulan. Dengan begitu akan terhindarlah hal-hal yang tidak diharapkan.
Tapi nampaknya rambu-rambu pergaulan ini belum sepenuhnya difahami oleh sebagian orang. Karena itu menjadi tanggung jawab kita menasehati mereka dengan baik. Tentu saja ini harus kita awali dari diri kita masing-masing.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menjauhkannya dari perbuatan tercela dan perbuatan yang tidak terpuji. Amin.
Dari 450 responden putra-putri usia 15-24 tahun kita menemukan kenyataan yang sangat mencengangkan. Robby Susatyo—Manager Director Synovate—mengemukakan data berikut ini:
1. Sekitar 16 % remaja di empat kota itu mengaku sudah berhubungan intim saat berusia antara 13-15 tahun.
2. 44 % responden lainnya mengaku mulai ‘mencicipi’ seks sejak usia 16-18 tahun. Sampai disini kita dapat menghitung bahwa 50 % responden mengaku telah berhubungan seks saat mereka belum lagi lepas akil baligh.
3. Sekitar 35 % responden mengaku mengenal seks pertama kali dari film porno. Sisanya mengaku mengetahui seks dari pengalaman sesama teman.
4. 40 % responden mengaku pertama kali melakukan hubungan seks di rumah mereka; 26 % mengaku senang melakukannya di tempat kos; 26 % lainnya senang melakukannya di kamar hotel.
Sangat memprihatinkan. Inilah yang terjadi pada sebagian remaja. Kita tidak tahu persis fakta sesungguhnya; mungkin jumlahnya lebih sedikit, mungkin juga lebih besar.
Pertanyaannya adalah, apa yang mesti kita lakukan? Menurut saya, tidak ada pilihan lain, kecuali dengan berusaha menegakkan dan menjungjung tinggi akhlak Islam. Dan untuk itu setiap kita hendaknya merasa bertanggung jawab untuk mewujudkannya.
Rambu-rambu Islam tentang pergaulan
Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil (sempurna). Agama mulia ini diturunkan dari Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui tentang seluk beluk ciptaan-Nya. Dia turunkan ketetapan syariat agar manusia hidup tenteram dan teratur.
Diantara aturan yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia adalah aturan mengenai tata cara pergaulan antara pria dan wanita. Berikut rambu-rambu yang harus diperhatikan oleh setiap muslim agar mereka terhindar dari perbuatan zina yang tercela:
Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih baik bagi mereka…katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” (QS. 24: 30-31).
Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Maka jagalah kedua biji mata ini agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, “Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).
Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami agar terhindar dari fitnah. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman, “…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. 24: 31).
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. 33: 59)
Dalam hal menjaga aurat, Nabi pun menegaskan sebuah tata krama yang harus diperhatikan, beliau bersabda: “Tidak dibolehkan laki-laki melihat aurat (kemaluan) laki-laki lain, begitu juga perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidak boleh laki-laki berkumul dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh berkemul dengan sesama perempuan dalam satu kain.” (HR. Muslim)
Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS. 17: 32) misalnya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR. Ahmad).
Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan selera’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah, “Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. 33: 31)
Berkaitan dengan suara perempuan Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)
Kelima, hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk berjabatan tangan sebagaimana dicontohkan Nabi saw, “Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita.” (HR. Malik, Tirmizi dan Nasa’i).
Dalam keterangan lain disebutkan, “Tak pernah tangan Rasulullah menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hal ini dilakukan Nabi tentu saja untuk memberikan teladan kepada umatnya agar melakukan tindakan preventif sebagai upaya penjagaan hati dari bisikan syaithan.Wallahu a’lam.
Selain dua hadits di atas ada pernyataan Nabi yang demikian tegas dalam hal ini, bekiau bersabda: “Seseorang dari kamu lebih baik ditikam kepalanya dengan jarum dari besi daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani).
Keenam, hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara pria dengan wanita dalam satu tempat. Hal ini diungkapkan Abu Asied, “Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata: “Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bagian tengah jalan; bagian kalian adalah pinggir jalan (HR. Abu Dawud).
Selain itu Ibnu Umar berkata, “Rasulullah melarang laki-laki berjalan diantara dua wanita.” (HR. Abu Daud).
Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa pria dan wanita memang harus menjaga batasan dalam pergaulan. Dengan begitu akan terhindarlah hal-hal yang tidak diharapkan.
Tapi nampaknya rambu-rambu pergaulan ini belum sepenuhnya difahami oleh sebagian orang. Karena itu menjadi tanggung jawab kita menasehati mereka dengan baik. Tentu saja ini harus kita awali dari diri kita masing-masing.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menjauhkannya dari perbuatan tercela dan perbuatan yang tidak terpuji. Amin.
Sifat - sifat isteri soleha
SIFAT-SIFAT ISTERI SOLEHAH Mentaati Perintah Suami
Isteri yang mentaati suami dengan cara yang baik, menuruti perintah macam apa pun, kecuali jika suami memerintahkannya kepada kederhakaan. Jika apa yang diperintahkan suami tidak sesuai dengan keinginannya, maka dia menunggu kesempatan yang tepat dan memungkinkan untuk membuat suaminya berkenan, dengan yang adil, tidak dengan cara membantah, tidak membangkang, apalagi bertengkar sehingga terpaksa menerima pendapatnya. Sebab suamilah yang berhak menjadi pemimpin di dalam rumahtangga, sesuai dengan apa yang dianugerahkan Allah. Jadi keputusan perlu ada di tangan suami. Andaikata isteri menghadapi suami dengan lapang dada dan dia sudah mengetahui bahawa suamilah yang menjadi pemimpin di dalam rumah dan perintahnya perlu ditaati, maka tidak ada buruknya jika dia meminta kepada suaminya untuk bersikap adil dalam setiap keputusannya, yang tentu sahaja permintaannya ini mesti disertai dengan alasan yang boleh diterima. Sebab apa pun yang ada pada dirinya adalah milik suaminya dan dia perlu sependapat dengan suaminya. Dengan cara ini segala urusan akan dapat berjalan lancar, tanpa ada masalah yang menyekat kebahagiaannya.
Berasa Senang Apabila Suami Memandangnya
Isteri solehah adalah isteri yang membuat suaminya senang apabila dia memandang dirinya. Tidak ada yang dilihat si suami melainkan membuat dadanya lapang dan senang. Dia menguntumkan dengan seulas senyuman yang menawan dan pandangan yang memancarkan rasa cinta, kasih sayang dan kelembutan. Dia sedap dipandang, mengenakan pakaian yang rapi dan harum semerbak baunya. Setiap kali si suami memandangnya dalam keadaan seperti itu, tentu hatinya akan berbunga-bunga, sehingga dia merasakan seakan-akan ditangannya ada hadiah sangat berharga yang diberikan Allah kepadanya, sehingga dia akan sentiasa menjaga hadiah itu dan tidak mahu ia lepas dari tangannya. Dengan begitu suami tidak akan memandang kepada hal-hal yang diharamkan Allah, tidak berusaha lari rumah, untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan di luar rumahnya. Sebab isterinya telah menyediakan iklim kehidupan yang nyaman untuk didiami, setelah si suami bersusah payah sepanjang hari mencari sesuap kehidupan. Dengan cara ini bererti isteri telah membuat Rabbnya redha, membahagiakan suami, mendapat limpahan rasa cinta dan perhatiannya.
Penuh Kasih Sayang Dan Memerhatikan Suaminya
Isteri solehah adalah isteri yang mengasihi suami, membuatnya redha, melakukan segala sesuatu yang disukainya dan menghindari apa-apa yang dibencinya, sehingga suami melihat pada dirinya apa yang disukainya, merasakan apa yang menyenangkannya dan mendengar darinya apa-apa yang diredhainya.
Jika suami tidak mendapatkan di dalam rumahnya seorang isteri yang lemah lembut, penuh kasih sayang, selalu berkeadaan bersih, mengukir senyuman, tidak mendengar perkataan yang baik, tidak mendapatkan cinta yang tulus, akhlak Islam yang mulia dan tangan yang menjulurkan cinta, lalu dimanakah dia harus mendapatkan semua itu?
Menolong Suami Dalam Urusan Agama Dan Dunia
Isteri solehah adalah isteri yang sentiasa mendorong suaminya kepada hal-hal yang baik dalam urusan agama dan dunia, menganjurkannya supaya berpegang kepada syariat Islam, sama ada yang fardhu mahupun yang sunat, mendorongnya untuk melakukan segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, seperti silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua dan menjauhkannya dari hal-hal yang dibenci ALlah. Dia harus selalu ingat bahawa dia akan menjadi ibu bagi anak-anaknya, yang di kemudian hari mereka akan menjadi dewasa dan menikah serta berbakti kepadanya. Dia juga perlu mengingatkan suaminya tentang sebuah hadis sahih yang bermaksud:
"Berbaktilah kepada bapa-bapa kamu, nescaya anak-anak kamu akan berbakti kepada kamu."
Dia juga perlu menjalin hubungan dengan keluarga suaminya, agar memperoleh keredhaan Allah dan keredhaan suami, iaitu ketika suami melihatnya menjalin hubungan dengan keluarganya. Maksudnya ialah agar dengan cara ini tidak wujud perselisihan antara dirinya dan keluarga suaminya seperti yang sering terjadi pada masa sekarang.
Isteri solehah juga perlu menganjurkan suaminya untuk menjauhi mata pencarian yang haram. Para isteri orang-orang salaf yagn solehah biasa mengatakan kepada suaminya yang hendak pergi untuk bekerja, "bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau memberi makan kami dengan sesuatu yang haram. Sesungguhnya kami masih boleh sabar menghadapi rasa lapar dan kami tidak boleh bersabar menerima panasnya api neraka."
Isteri solehah juga menganjurkan suaminya untuk bangun malam dan juga menyertainya dalam solat itu, agar rahmat Allah turun kepada mereka, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW yang bermaksud:
"Allah merahmati seorang lelaki yang bangun dari sebahagian malam lalu mendirikan solat, dan membangunkan isterinya. Jika isterinya enggan bangun, dia akan memercikkan air ke wajahnya. Dan ALlah merahmati seorang wanita yang bangun dari sebahagian malam lalu mendirikan solat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan bangun, maka dia akan memercikkan air ke wajahnya." (Riwayat Ahmad dan Abu Darda)
Sokongan seorang isteri terhadap suami dalam urusan agama ialah dengan cara mengatur dan menjaga harta suaminya, tidak menuntut kecuali apa yang diperlukannya, tidak membelanjakan kecuali menurut apa yang diperintahkan suami.
Seorang isteri bertanggungjawab terhadap pengeluaran harta suami bukan pada jalan kebaikan. Sebab dia bertugas mengatur semua urusan rumahtangga. Harta yang melimpah bukan bererti tidak perlu ada pengurusan. Sebab tanpa ada pengurusan, kehidupan rumahtangga menjadi kacau bilau dan runtuh. Isteri yang pemboros merupakan musuh bagi dirinya sendiri dan menjadi bencana bagi suaminya. Dengan tangannya dia akan menghabiskan harta suami. Berapa ramai isteri yang menghancurkan rumahtangganya kerana tidak pandai mengurus kewangan dan berapa ramai pula isteri yang mampu menegakkan kehidupan rumahtangganya kerana dia pandai mengatur kewangan.
Selagi suami melihat isterinya bersikap ekonomis, pandai mengatur kewangan dan menjaga hartanya, nescaya kecintaannya akan semakin bertambah, begitu pula kepercayaannya. Sehingga suami akan menyerahkan semua harta ke tangannya dan memberinya kebebasan untuk mengaturnya. Si suami percaya bahawa dia tidak akan membawa hartanya kepada kehancuran. Malahan boleh jadi dia justeru mengembangkannya. Menerusi kepercayaan ini akan tercipta kehidupan rumahtangga yang bahagia, jauh dari berbagai masalah kewangan, seperti yang sering kali kita dengarkan, yang disebabkan oleh cara pengurusannya yang kurang baik dari pihak isteri.
Berasa Senang Apabila Suami Memandangnya
Isteri solehah adalah isteri yang membuat suaminya senang apabila dia memandang dirinya. Tidak ada yang dilihat si suami melainkan membuat dadanya lapang dan senang. Dia menguntumkan dengan seulas senyuman yang menawan dan pandangan yang memancarkan rasa cinta, kasih sayang dan kelembutan. Dia sedap dipandang, mengenakan pakaian yang rapi dan harum semerbak baunya. Setiap kali si suami memandangnya dalam keadaan seperti itu, tentu hatinya akan berbunga-bunga, sehingga dia merasakan seakan-akan ditangannya ada hadiah sangat berharga yang diberikan Allah kepadanya, sehingga dia akan sentiasa menjaga hadiah itu dan tidak mahu ia lepas dari tangannya. Dengan begitu suami tidak akan memandang kepada hal-hal yang diharamkan Allah, tidak berusaha lari rumah, untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan di luar rumahnya. Sebab isterinya telah menyediakan iklim kehidupan yang nyaman untuk didiami, setelah si suami bersusah payah sepanjang hari mencari sesuap kehidupan. Dengan cara ini bererti isteri telah membuat Rabbnya redha, membahagiakan suami, mendapat limpahan rasa cinta dan perhatiannya.
Penuh Kasih Sayang Dan Memerhatikan Suaminya
Isteri solehah adalah isteri yang mengasihi suami, membuatnya redha, melakukan segala sesuatu yang disukainya dan menghindari apa-apa yang dibencinya, sehingga suami melihat pada dirinya apa yang disukainya, merasakan apa yang menyenangkannya dan mendengar darinya apa-apa yang diredhainya.
Jika suami tidak mendapatkan di dalam rumahnya seorang isteri yang lemah lembut, penuh kasih sayang, selalu berkeadaan bersih, mengukir senyuman, tidak mendengar perkataan yang baik, tidak mendapatkan cinta yang tulus, akhlak Islam yang mulia dan tangan yang menjulurkan cinta, lalu dimanakah dia harus mendapatkan semua itu?
Menolong Suami Dalam Urusan Agama Dan Dunia
Isteri solehah adalah isteri yang sentiasa mendorong suaminya kepada hal-hal yang baik dalam urusan agama dan dunia, menganjurkannya supaya berpegang kepada syariat Islam, sama ada yang fardhu mahupun yang sunat, mendorongnya untuk melakukan segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, seperti silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua dan menjauhkannya dari hal-hal yang dibenci ALlah. Dia harus selalu ingat bahawa dia akan menjadi ibu bagi anak-anaknya, yang di kemudian hari mereka akan menjadi dewasa dan menikah serta berbakti kepadanya. Dia juga perlu mengingatkan suaminya tentang sebuah hadis sahih yang bermaksud:
"Berbaktilah kepada bapa-bapa kamu, nescaya anak-anak kamu akan berbakti kepada kamu."
Dia juga perlu menjalin hubungan dengan keluarga suaminya, agar memperoleh keredhaan Allah dan keredhaan suami, iaitu ketika suami melihatnya menjalin hubungan dengan keluarganya. Maksudnya ialah agar dengan cara ini tidak wujud perselisihan antara dirinya dan keluarga suaminya seperti yang sering terjadi pada masa sekarang.
Isteri solehah juga perlu menganjurkan suaminya untuk menjauhi mata pencarian yang haram. Para isteri orang-orang salaf yagn solehah biasa mengatakan kepada suaminya yang hendak pergi untuk bekerja, "bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau memberi makan kami dengan sesuatu yang haram. Sesungguhnya kami masih boleh sabar menghadapi rasa lapar dan kami tidak boleh bersabar menerima panasnya api neraka."
Isteri solehah juga menganjurkan suaminya untuk bangun malam dan juga menyertainya dalam solat itu, agar rahmat Allah turun kepada mereka, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW yang bermaksud:
"Allah merahmati seorang lelaki yang bangun dari sebahagian malam lalu mendirikan solat, dan membangunkan isterinya. Jika isterinya enggan bangun, dia akan memercikkan air ke wajahnya. Dan ALlah merahmati seorang wanita yang bangun dari sebahagian malam lalu mendirikan solat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan bangun, maka dia akan memercikkan air ke wajahnya." (Riwayat Ahmad dan Abu Darda)
Sokongan seorang isteri terhadap suami dalam urusan agama ialah dengan cara mengatur dan menjaga harta suaminya, tidak menuntut kecuali apa yang diperlukannya, tidak membelanjakan kecuali menurut apa yang diperintahkan suami.
Seorang isteri bertanggungjawab terhadap pengeluaran harta suami bukan pada jalan kebaikan. Sebab dia bertugas mengatur semua urusan rumahtangga. Harta yang melimpah bukan bererti tidak perlu ada pengurusan. Sebab tanpa ada pengurusan, kehidupan rumahtangga menjadi kacau bilau dan runtuh. Isteri yang pemboros merupakan musuh bagi dirinya sendiri dan menjadi bencana bagi suaminya. Dengan tangannya dia akan menghabiskan harta suami. Berapa ramai isteri yang menghancurkan rumahtangganya kerana tidak pandai mengurus kewangan dan berapa ramai pula isteri yang mampu menegakkan kehidupan rumahtangganya kerana dia pandai mengatur kewangan.
Selagi suami melihat isterinya bersikap ekonomis, pandai mengatur kewangan dan menjaga hartanya, nescaya kecintaannya akan semakin bertambah, begitu pula kepercayaannya. Sehingga suami akan menyerahkan semua harta ke tangannya dan memberinya kebebasan untuk mengaturnya. Si suami percaya bahawa dia tidak akan membawa hartanya kepada kehancuran. Malahan boleh jadi dia justeru mengembangkannya. Menerusi kepercayaan ini akan tercipta kehidupan rumahtangga yang bahagia, jauh dari berbagai masalah kewangan, seperti yang sering kali kita dengarkan, yang disebabkan oleh cara pengurusannya yang kurang baik dari pihak isteri.
Berpakaian muslim yang baik
Alhamdulillah saat ini banyak wanita muslim yang mengenakan busana muslimah/jilbab. Ada yang sudah berpakaian sesuai tuntunan agama. Ada pula yang meski sudah memakai jilbab, namun masih jauh dari ajaran Islam.
Sebagai contoh, ada yang memakai jilbab, namun jilbabnya tidak menutupi dada. Parahnya lagi, dia memakai kaus dan celana yang ketat sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Akhirnya timbul keanehan, memakai jilbab tapi kok terlihat seksi ya?
Nah tulisan ini bukan bermaksud untuk mengecam. Tapi untuk memberikan pencerahan agar kita tahu cara berpakaian yang benar menurut ajaran Islam.
Pakaian Islam harus menutup seluruh aurat.
AURAT lelaki menurut ahli hukum ialah daripada pusat hingga ke lutut. Aurat wanita pula ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, tapak tangan dan tapak kakinya. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Paha itu adalah aurat.” (Bukhari)
Pakaian Islam tidak boleh menampakkan tubuh atau jarang.
Dari Saidatina Aisyah bahawa satu hari kakaknya, Asma binti Abu Bakar datang mengadap Rasulullah SAW sedang ia berpakaian tipis (jarang). Melihatkan keadaan itu, Rasulullah SAW terus berpaling muka.” [HR Abu Daud]
Kadang ada pakaian yang meski menutup seluruh tubuh, namun serat kainnya begitu jarang persis seperti kain kasa atau transparan seperti plastik. Akibatnya tubuh atau warna kulit pun terlihat jelas seolah-olah *******.
Rasulullah SAW bersabda: “Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi ******* dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh.” (Muslim)
Pakaian juga tidak boleh ketat sehingga bentuk tubuh terlihat jelas.
Pakaian juga tidak boleh untuk bermegah-megahan atau bermewah-mewahan.
”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur 1]
Pakaian tidak boleh berlebihan sehingga menimbulkan perasaan sombong atau congkak ketika memakainya. Contohnya sering kita melihat para bangsawan yang bajunya begitu mewah dan panjang sehingga terseret-seret di lantai sementara dagunya menghadap ke atas dengan rasa sombong.
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak akan memandang orang yang menyeretkan pakaiannya dengan sombong. (Shahih Muslim No.3887)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Ia melihat seorang lelaki menyeret kainnya, ia menghentakkan kakinya ke bumi, lelaki itu adalah pangeran Bahrain. Ia berkata: Pangeran datang, pangeran datang! Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak akan memandang orang yang menyeretkan kainnya dengan kecongkakan. (Shahih Muslim No.3893)
Jadi kalau ada yang memakai pakaian mahal misalnya dengan harga 5 dinar ke atas atau Rp 5 juta ke atas sambil membanggakan kepada temannya, ini aku beli seharga Rp 5 juta, niscaya itu sudah tidak Islami lagi.
Seharusnya yang sederhana saja dan tidak berlebihan sehingga sisa uangnya bisa dipakai untuk sedekah membantu fakir miskin.
Pakaian Lelaki harus berbeda dengan pakaian wanita. Tidak boleh lelaki berpakaian wanita dan wanita berpakaian lelaki meski mungkin itu hanya untuk memancing tawa/lelucon.
Rasulullah SAW bersabda: “Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki, dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan.” (Bukhari dan Muslim)
Baginda juga bersabda bermaksud: “Allah melaknat lelaki berpakaian wanita dan wanita berpakaian lelaki.” (Abu Daud dan Al-Hakim).
Wanita boleh pakai sutera. Namun lelaki tidak boleh.
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di dunia tidak dapat memakainya di akhirat.” (Muttafaq ‘alaih)
Hendaknya saat keluar rumah para wanita mengenakan jilbabnya.
”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Ahzab 59]
Hendaknya kerudung dipakai hingga menutupi dada.
”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [An Nuur 31]
Sebagai contoh, ada yang memakai jilbab, namun jilbabnya tidak menutupi dada. Parahnya lagi, dia memakai kaus dan celana yang ketat sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Akhirnya timbul keanehan, memakai jilbab tapi kok terlihat seksi ya?
Nah tulisan ini bukan bermaksud untuk mengecam. Tapi untuk memberikan pencerahan agar kita tahu cara berpakaian yang benar menurut ajaran Islam.
Pakaian Islam harus menutup seluruh aurat.
AURAT lelaki menurut ahli hukum ialah daripada pusat hingga ke lutut. Aurat wanita pula ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, tapak tangan dan tapak kakinya. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Paha itu adalah aurat.” (Bukhari)
Pakaian Islam tidak boleh menampakkan tubuh atau jarang.
Dari Saidatina Aisyah bahawa satu hari kakaknya, Asma binti Abu Bakar datang mengadap Rasulullah SAW sedang ia berpakaian tipis (jarang). Melihatkan keadaan itu, Rasulullah SAW terus berpaling muka.” [HR Abu Daud]
Kadang ada pakaian yang meski menutup seluruh tubuh, namun serat kainnya begitu jarang persis seperti kain kasa atau transparan seperti plastik. Akibatnya tubuh atau warna kulit pun terlihat jelas seolah-olah *******.
Rasulullah SAW bersabda: “Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi ******* dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh.” (Muslim)
Pakaian juga tidak boleh ketat sehingga bentuk tubuh terlihat jelas.
Pakaian juga tidak boleh untuk bermegah-megahan atau bermewah-mewahan.
”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur 1]
Pakaian tidak boleh berlebihan sehingga menimbulkan perasaan sombong atau congkak ketika memakainya. Contohnya sering kita melihat para bangsawan yang bajunya begitu mewah dan panjang sehingga terseret-seret di lantai sementara dagunya menghadap ke atas dengan rasa sombong.
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak akan memandang orang yang menyeretkan pakaiannya dengan sombong. (Shahih Muslim No.3887)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Ia melihat seorang lelaki menyeret kainnya, ia menghentakkan kakinya ke bumi, lelaki itu adalah pangeran Bahrain. Ia berkata: Pangeran datang, pangeran datang! Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak akan memandang orang yang menyeretkan kainnya dengan kecongkakan. (Shahih Muslim No.3893)
Jadi kalau ada yang memakai pakaian mahal misalnya dengan harga 5 dinar ke atas atau Rp 5 juta ke atas sambil membanggakan kepada temannya, ini aku beli seharga Rp 5 juta, niscaya itu sudah tidak Islami lagi.
Seharusnya yang sederhana saja dan tidak berlebihan sehingga sisa uangnya bisa dipakai untuk sedekah membantu fakir miskin.
Pakaian Lelaki harus berbeda dengan pakaian wanita. Tidak boleh lelaki berpakaian wanita dan wanita berpakaian lelaki meski mungkin itu hanya untuk memancing tawa/lelucon.
Rasulullah SAW bersabda: “Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki, dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan.” (Bukhari dan Muslim)
Baginda juga bersabda bermaksud: “Allah melaknat lelaki berpakaian wanita dan wanita berpakaian lelaki.” (Abu Daud dan Al-Hakim).
Wanita boleh pakai sutera. Namun lelaki tidak boleh.
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di dunia tidak dapat memakainya di akhirat.” (Muttafaq ‘alaih)
Hendaknya saat keluar rumah para wanita mengenakan jilbabnya.
”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Ahzab 59]
Hendaknya kerudung dipakai hingga menutupi dada.
”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [An Nuur 31]
Kamis, 03 November 2011
tips memakai kerudung yang baik
- Jilbab yang Bersanggul
Larangan jilbab yang bersanggul ini datang sendiri dari Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam.
![]() | |||
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Jelas sekali diterangkan rasulullah bahwa wanita yang seperti itu tidak akan masuk syurga dan mencium baunya pun tidak. Maka ini peringatan bagi kita muslimah untuk bermuhasabah diri.
Langganan:
Postingan (Atom)
